Kesuksesan ini tak diraih dengan mudah. Bong harus menempa dirinya dengan kerja keras. Saat usianya menginjak 18 tahun, Bong memilih berjibaku membangun bisnis ketimbang bersenang-senang seperti remaja seusianya. Kerja keras Bong dimulai sejak krisis ekonomi 1998. Bencana itu membuat bisnis ayahnya, Aditya, terempas. Pabrik kuenya terancam gulung tikar. “Rumah sampai nyaris dijual,” katanya saat ditemui di salah satu tempat usahanya, Free Car Wash Serpong, Tangerang Selatan, Kamis lalu.
Bong, yang kala itu berusia 11 tahun, berempati atas terpuruknya ekonomi keluarga. Kebutuhan sekolah diusahakan sendiri. Contohnya ia lebih memilih kertas bekas dan memfotokopi buku pelajaran milik temannya ketimbang membeli baru. Beberapa alat tulis juga dibuatnya sendiri. “Saya menggunakan karet (gelang) untuk penghapus,” tuturnya.
Bong kecil juga menjual sisa potongan kue di pabrik ayahnya ke sekolah. Semula ia gengsi. Apalagi dia minder karena penyakit asma, yang membuat tubuhnya ringkih, sehingga kerap dicemooh oleh rekannya. Namun motivasi dia bertahan hidup lebih besar. Bong malah makin giat mengembangkan usaha. “Saya menjual parfum dan VCD (cakram padat).”
Saat masuk SMA, ia bersama seorang temannya nekat berbelanja pakaian ke Bandung meski tak punya duit. “Modalnya kepercayaan,” katanya. Pagi hari mereka berangkat, sore kembali ke Jakarta dengan membawa setumpuk baju yang siap dijual. Bong membuka lapaknya di Senayan dan Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan. Ia juga menjual pakaian seragam kepada rekan dan adik kelasnya.
Bong sadar motivasi perlu dipertahankan karena cemoohan berpotensi mengendurkan semangatnya. Apalagi rekannya kerap menyindir Bong. “Seumuran kita harusnya bersenang-senang,” ujar Bong menirukan rekannya. Tapi ia berkukuh. Beruntung, orang tuanya rajin memberi nasihat. Bong pun gemar membaca buku motivator dunia, seperti Donald Trump. “Keinginan sukses makin besar,” katanya. Kegemaran ini memudahkannya memotivasi diri. Ia pun mulai menasihati temannya yang patah semangat.
Ia makin yakin akan kualitas bakatnya memotivasi orang. Bersama lima rekannya, Bong membuat event organizer untuk pelatihan motivasi. Sasarannya orang-orang dekat. “Saya diminta beberapa rekan satu jemaat di gereja,” ujarnya. Bong awalnya memotivasi para karyawan pemasaran. Selama dua tahun pertama, ia hanya memungut biaya operasional. “Ini investasi saya,” katanya. Apalagi tujuan bisnis ini tidak untuk mencari uang. “Saya memperluas pertemanan,” katanya.
Tak sulit bagi alumnus SMA Kalam Kudus Jakarta ini mendapatkan teman dari 90 ribu peserta pelatihannya, yang kebanyakan pelaku bisnis. “Kalau teman kita sukses, kita akan kecipratan sukses,” katanya. Keyakinan Bong yang kerap mengisi pelatihan di kalangan pebisnis properti ini benar. Ia mulai diajak sesama pembicara saat memberikan pelatihan di Real Estate Jawa Timur.
Awalnya Bong diminta mencarikan investor pembangunan properti seluas 5,1 hektare di Ciledug, Tangerang. Meski gagal, rekannya tak kecewa. Ia justru diminta bergabung menjalankan bisnis ini. Akhirnya Bong dan dua temannya menjalankan perusahaan properti senilai Rp 180 miliar sejak Januari lalu. “Ini modal networking,” katanya.
Keberuntungannya terus bergulir. Pelan-pelan banyak tawaran mengajaknya berbisnis bersama. Selain properti, Bong mendirikan bisnis pencucian mobil. Usaha ini dibangun di Buah Batu, Bandung, dan Serpong. Kini ia menjalankan tiga usaha dengan karyawan mencapai 100 orang. Menjadi pembicara motivasi membuat Bong memutuskan berhenti kuliah di Jurusan Desain Grafis Universitas Bina Nusantara. Setelah tidak kuliah, satu-satunya pilihan Bong adalah menjadi motivator yang sukses.
Meski dia sudah berbicara di hadapan 15 ribu orang per tahun, mulai mahasiswa, ibu rumah tangga, dosen, ahli hukum, dokter, pengusaha, hingga CEO, Bong menyebut dirinya sebagai pribadi yang tertutup. “Saya tidak mudah akrab,” katanya. Bong juga mengenali dirinya sebagai orang yang lambat bertindak. “Saya menuntut sempurna jadi kerap lama berpikir.”
_____________________________________________________________
5. Jamil Azzaini
Inspirator Sukses Mulia. Julukan itu diberikan oleh rekan-rekannya didasari oleh kepiawaiannya mendorong orang untuk selalu meraih kehidupan terbaik: Sukses Mulia. Sukses adalah orang yang memiliki 4-ta (harta, tahta, kata dan cinta) yang tinggi, 4-ta itu diperoleh dengan memerhatikan etika dan agama yang dianutnya. Sementara mulia adalah memanfaatkan 4-ta yang sudah diperoleh untuk memberi manfaat kepada orang-orang di sekitarnya.
Mula-mula ia memberikan training atas nama pribadi. Namun, sejak 2004 ia bergabung dan mengembangkan PT. Kubik Kreasi Sisilain bersama Farid Poniman dan Indrawan Nugroho yang telah merintis usaha itu sejak 1999. Bersama dua rekannya ini pula ia menulis buku Kubik Leadershipâ pada akhir 2005 dan hingga kini sudah naik cetak 13 kali. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia tersebut pada Juni 2010 juga telah dicetak dalam bahasa Melayu di Malaysia.
Pria kelahiran Purworejo Jawa Tengah, 09 Agustus 1968 ini menempuh jenjang pendidikan formal strata satu (S-1) dan (S-2) di Institut Pertanian Bogor (IPB). Sejak 1995, Jamil Azzaini juga menjadi pembicara publik dengan berbagai tema, khususnya pengembangan diri, spiritualitas, kewirausahaan dan pemberdayaan masyarakat. Mulai 2004, Jamil fokus memberikan training maupun seminar Personal Development di berbagai perusahaan atau instansi di Brunei Darussalam, Philipina, Hongkong dan Makao, Singapura dan Jepang
Di Indonesia siapa saja yang telah mengundangnya?
Di Indonesia, sejak ia terjun kedunia training banyak sekali perusahaan yang telah mengundangnya.
Perbankan: Bank Indonesia, Bank Mandiri, BRI, BRI Syariah, BNI 46, BNI Syariah, BCA, CIMB Niaga, Bank BTN, Bank ArthaGraha, Bukopin, Bank Danamon, Bank DKI, Bank Mega Syariah, Bank BPD Kalbar, Bank Syariah Mandiri, Bank Permata, BII, BPD Kalsel.
BUMN & Pemerintahan: Pertamina, Telkom, Perusahaan Gas Negara, Askes, Jasa Raharja, Jiwasraya, Pelindo-2, Elnusa, Sucofindo, Surveyor Indonesia, Pupuk Kaltim, Perum Peruri, Pos Indonesia, Lido Resort, Permodalan Nasional Madani, Adhi Karya, Istaka Karya, PLN, Banda Ghana Reksa, Rukindo, Yelow Pages, Rajawali Nusantara Indonesia Group, Kementerian Perhubungan, Departemen Pendidikan Nasional, Meneg BUMN, Perum Pegadaian, Peti Kemas Surabaya, Bahana Securitas, PTPN X, BP-Migas, PT Pupuk Kujang, Pupuk Iskandar Muda, Departemen Keuangan, Dirjen Pajak.
Swasta: Bakrie & Brothers, Bakrie Telecom, Nuticia, Aqua, Yamaha, Astra Honda Motor, Sony, Pama Persada, Jaya Board, Ericsson Indonesia, Samudera Indonesia, Holcim, ACT, B Braun, Tripatra, Diebold, MNC, Kompas Gramedia Group, Santika, Rumah Sakit Harapan Kita, Sun Life Financial Indonesia, Sari Husada, Arutmin, Kuala Pelabuhan Indonesia, Sumarecon, AIG Life, Jaya Group, Chevron.
HM Sampoerna, Indika Group, Oto Finance, Adira Finance, Kosgoro, Abacus, Jakarta International Container Terminal (JICT), Good Year, Tunas Toyota, Asuransi Tugu Pratama, Sharp Indonesia, Tupperware, Tripatra, Rajawali Plantation, AXA Mandiri, Asuransi Astra Buana, Dipostar, Lintas Arta, Mega Auto Finance, Mega Credit Finance, United Tractor, Auto 2000, Trac, Senayan City serta puluhan perusahaan lainnya.
Apa saja buku yang sudah ditulisnya?
Apa kegiatan lain Jamil Azzaini?
Untuk mengembangkan kemampuan para trainer ia menggagas lahirnya Akademi Trainer. Dari kegiatan ini diharapkan akan lahir trainer-trainer berkarakter yang mampu menginspirasi Indonesia menuju peradaban yang lebih baik, peradaban Sukses Mulia. Kegiatan utama Akademi Trainer adalah Wanna Be Trainer, Trainer Bootcamp & Contest, dan Leader Talks.
Jamil juga membuat Komunitas SuksesMulia dan Klub SuksesMulia. Hal ini dilakukan sebagai upaya terwujudnya peradaban SuksesMulia. Diharapkan Komunitas SuksesMulia tersebar di setiap kota di Indonesia. Bagi Anda yang ingin bergabung silakan bergabung di www.KomunitasSuksesMulia.com atau telpon ke 021-29400-100 ext 33.
Bersama kakak kandungnya, Jamil Azzaini juga mendirikan sekolah murah tingkat menengah di Lampung. Saat ini setiap tahunnya muridnya lebih dari 1.400 orang. Jamil juga mendirikan Pesantren Wirausaha Agribisnis Abdurrahman bin Auf secara cuma-cuma di Klaten Jawa Tengah. Lulusan Pesantren ini dimaksudkan untuk melahirkan para pengusaha baru di Indonesia sekaligus memutus rantai kemiskinan.
Ia juga menjadi penasehat di beberapa lembaga yang peduli untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat diantaranya Komunitas Tangan Di Atas (TDA). Sebuah komunitas wirausaha dan sebagian besar anggotanya adalah pengusaha muda.
Selain itu, ia juga menjadi penasehat di Yatim Mandiri sebuah lembaga sosial yang berupaya memandirikan anak-anak Yatim. Tahun 2011, lembaga ini tercatat di MURI sebagai lembaga yang paling banyak memberi bantuan kepada anak yatim.
Media mana yang pernah menampilkan buah bikiran atau profilnya?
Media Massa: Kompas, Republika, Intisari, Koran Tempo, Jawa Pos, Majalah Garuda, Radar Yogya, Kedaulatan Rakyat, Tribun Riau, Sumatera Post, Paras, Radar Jogya. Radar Lampung, Tabloid Nova, Majalah Excellent, Lampung Post, dan berbagai media komunitas.
Elektronik: RCTI, Metro TV, ANTV, TransTV, TVRI, TV One, Sindo Trijaya FM, SMART FM, Pas FM, Sonora, JJFM, SIndo TV, DD FM, QTV
Satu kalimat yang mewakili profil Jamil adalah:
Dalam diri sosok Jamil mengalir bakat alami sebagai trainer, penulis, pengkader trainer & social entrepreneur serta penggerak kepedulian masyarakat
_______________________________________
6.Sandiaga Salahuddin Uno
"Milyarder di Usia Muda"

Bernama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno, adalah putra dari Mien R. Uno. Lahir di Rumbai, Pekanbaru, tanggal 28 Juni 1969, berdarah asli Gorontalo. Sosoknya yang murah senyum memang merupakan salah satu tokoh fenomena dalam belantara bisnis di Indonesia,bayangkan saja dalam usianya yang masih sangat muda, yaitu 43 tahun (2012), ia telah dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia nomor 29 oleh majalah internasional Forbes. Sandi, begitu sering ia dipanggil, mempunyai kekayaan sekitar Rp 8 Triliyun.
Karir
Sandi, lulus kuliah dari Wichita State University yang berada di Kansas, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude. Setelah ia lulus, ia bekerja di Bank Summa pada 1990, yang merupakan bank milik boss Astra, William Soeryadjaja, sosok yang begitu berarti, sebagai mentor dalam berbisnis bagi Sandiaga S Uno. Setahun kemudian ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di George Washington University Amerika Serikat dari William Soeryadjaja. Ia pun lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK 4,00).

Karena efek dari perang Timur Tengah, Bank Summa akhirnya ditutup, dan Sandi tidak dapat melanjutkan kembali pekerjaannya di Bank tersebut. Pada tahun 1993 ia bergabung dengan Seapower Asia Investment Limited di Singapura sebagai manajer investasi sekaligus menjadi manajer investasi di MP Holding Limited Group di tahun 1994. Selanjutnya ia hijrah ke NTI Resources Ltd Kanada di tahun 1995. Di tempat tersebut, Sandi mendapat kepercayaan untuk menduduki posisi Excecutive Vice President NTI Resources Ltd dengan penghasilan 8000 dollar AS per bulan.
Mapan sejenak, Sandi kembali terempas. Perusahaan tempat dia bekerja tutup. Mau tidak mau, dia kembali ke tanah air. ”Saya berangkat dari nol. Bahkan, kembali dari luar negeri, saya masih numpang orang tua,” katanya.
Sandi mengakui, dirinya semula kaget dengan perubahan kehidupannya. ”Biasanya saya dapat gaji setiap bulan, tapi sekarang berpikir bagaimana bisa survive,” tutur pria kelahiran Rumbai itu. Apalagi, ketika itu krisis.
Dia kemudian menggandeng rekan sekolah semasa SMA, Rosan Roeslani, mendirikan PT Recapital Advisors. Pertautan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak William, Edwin Soeryadjaja.
Berbekal jejaring yang baik dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi sukses menjalankan bisnis tersebut. Mekanisme kinerja perusahaan tersebut adalah menghimpun modal investor untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang mengalami masalah keuangan. Kinerja perusahaan tersebut dibenahi, dikembangkan dan diperbaiki manajemennya, kemudian setelah kembali sehat perusahaan tersebut dijual kembali.
Saratoga juga mempunyai saham besar di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.
Sandi juga aktif dalam beberapa organisasi, ia sekarang menjabat sebagai anggota KEN (Komite Ekonomi Nasional) dan juga bendahara ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).
Pada 2005-2008, Sandi menjadi ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia(HIPMI), Ia juga menjadi Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah(UMKM) di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sejak 2004.
Keluarga
Di balik aktivitasnya yang padat, ia tidak lupa akan keluarganya, ia biasanya menjadikan hari Sabtu-Minggu sebagai hari keluarga, meskipun
menjadikan Sabtu-Minggu sebagai hari untuk keluarga. Itu pun sangat terbatas. “Saya paling suka ke Senayan. Pasti Sabtu olahraga bareng keluarga di sana. Pagi lari, agak siang sedikit pukul-pukul bola, golf,” ceritanya.
Kemudian, biasanya mereka sekeluarga jalan-jalan ke mal. “Sebenarnya, saya paling nggak suka ke mal. Tapi, ya sedikit menyenangkan anaklah,” kata Sandi yang mengaku tak tertarik terjun ke dunia politik.
Sandi lantas tertawa mengingat polah lucu sang anak itu. “Jujur, saya selalu ingin ada di samping mereka. Saya ingin memberikan yang terbaik,” tambahnya dengan mimik serius.
Karena itu, Sandi kerap berangan-angan bahwa sehari itu bukan 24 jam. “Seandainya sehari itu ditambah empat jam saja, tambahan empat jam tersebut akan saya habiskan bersama keluarga,” tegasnya.
Penutup
Sandi mengakui bahwa semua karir dan gemerlap kekayaan yang ia dapatkan selama ini, tidak serta merta dari hasil jerih payahnya saja. Semua itu juga berasal dari aktivitas ibadahnya yang tak pernah berhenti.
"Jadi begini, ibadah itu kalau sudah rutin kita lakukan bukan lagi menjadi sebuah kewajiban tapi menjadi sebuah kebutuhan, Jadi kalau aku gak sholat dhuha sekali saja, tiba-tiba ada sesuatu yang hilang, aneh rasanya. Walaupun itu sunnah jadi terasa wajib. Dan aku ngerasain sekali hikmahnya, sudah 7-8 tahun ini rutin aku lakukan, rejeki itu seperti gak aku cari, semua datang sendiri." Ungkapnya
Kini Sandi telah membeli beberapa perusahaan, seperti Bank Pundi dan juga membeli 51% saham Mandala Airlines, ia juga menjadi jajaran direksi beberapa perusahaan, seperti PT Adaro Indonesia, PT Indonesia Bulk Terminal, PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, Interra Resources Limited, PT i FORTE SOLUSI INFOTEK.
Pelajaran
1. Keberanian dan optimisme dalam memandang masa depan menjadi kunci menuju kesuksesan.
2. Bangunlah jaringan/jejaring relasi dalam berbisnis.
3. Kegagalan bukan halangan untuk meraih kesuksesan, gigih dan terus berupaya untuk berani mencoba adalah kunci kesuksesan.
Referensi:
buku "Never Give Up" oleh Kaefa Mirzani halaman 115